Mastempawan Hadi, 2015
Suatu hari seorang pria paruh baya lewat depan rumah yang biasa kusapa dengan panggilan Pua'
"pole innai tau pua', leppammi tau..." sapaan santun khas orang Mandar
"utunggai mai na'u" rupanya dia sengaja mengunjungiku
"Oo.... inggae palakang tama di woyang...." kuajak beliau memasuki ruang tamu 2 x 3 ku...
"pole innai tau pua', leppammi tau..." sapaan santun khas orang Mandar
"utunggai mai na'u" rupanya dia sengaja mengunjungiku
"Oo.... inggae palakang tama di woyang...." kuajak beliau memasuki ruang tamu 2 x 3 ku...
dia berkisah, dahulu mendiang Kakek buyutku memiliki sepetak kebun...
hampir seluruh hidupnya dihabiskan disana, tinggal bersama keluarga di
kebun yang masih terbilang hutan, berbagai tanaman layaknya panguma
tradisional, kelapa, ubi kayu, pisang, temu-temuan, tanaman obat dan
hijauan makanan ternak, berikut beberapa ekor kambing.
dahulu perkampungan ini belum ada, masih berupa hutan dan semak belukar, jauh sebelum Gorombolang dan gurilla mencerai-beraikan sanak kadang dihampir seluruh pesisir dan pelosok Banggae dan Pamboang.... dentuman mortir, pariamba dibanua adalah hal rutin dan biasa magrib menjelang malam…. kebun si Kakek buyut masih jauh ke dalam sambil menunjuk arah dengan mimik yang sungguh-sungguh demi menegaskan betapa tersuruknya lokasi kebun yang kini diwarisinya itu... dalam kisahnya kutangkap kesan mencekam yang sangat angker…
"Mandundui tau Pua' sangga uwai todri..." istriku menawarinya setelah gelas kopi diletakkan ditatakannya, tentu saja dengan senyum termanis yang pernah dianugrahkan tuhan pada makhluk bernama perempuan.... keramahan ini mencairkan suasana menjadi lebih ringan... lanjut pua'!
disuatu petang di penghujung hari, dilereng dilindungi perbukitan siang terasa semakin cepat berakhir... sang kakek (yang ketika itu masih terbilang muda, sekitar empat puluhan tahun) sedang masygul kehilangan induk kambingnya, ini yang ketiga… rasanya sudah sangat keterlaluan (batin si kakek), kalau begini terus kambing-kambing ini akan habis dan yang kulakukan akan sia-sia…
beliau tak berdaya, tersangka utamanya adalah “Todri odroanna” (sekedar untuk diketahui, hingga hari ini faktanya semua peternak paham fenomena ini). Saya harus mencari cara bagaimana mengakhiri keadaan ini, besok aku akan mengunjungi tomatoa (sepuh masyarakat gunung yang tetap tinggal digunung meski keadaan sedang kacau, beliau tidak merasa perlu ikut-ikutan manyingkir, karena beliau disegani para gurilla dan gorombolang, beliau tidak pernah mendapat gangguan dari kelompok ini bahkan sering mendapat bantuan dan kemurahan, konon beliau berada pada maqom pandrita) semasa masih sangat muda sang kakek adalah murid kesayangan tomatoa.
singkat cerita sang kakek, menerima ilmu kesaktian gemblengan tomatoa, melalui berbagai rintangan ritual yang panjang kurang lebih empat puluh hari sang kakek di gembleng, penyucian batin. Sebagai tanda akhir dari ritual panjangnya, sang kakek melakukan ritual berendam disungai yang tak terjamah manusia, sehari semalam tanpa makan dan minum persis ketika siamme bulang anna mata allo…
nak… sudahi ritualmu… apa yang engkau hajatkan sudah ada dalam dirimu, ingat nak… bukan aku yang memberikan ilmu ini, aku hanya menghantarkanmu untuk sampai kesana, kesungguhan dan kemurnian hatimu yang membuatmu mungkin untuk menerima ilmu ini, inilah puncak dari ilmu dari segala ilmu “mapute nyawa kedro nipakedro”, inilah ketiadaan, engkau tak ada yang ada hanya DIA… sayup-sayup suara ini memasuki lorong-lorong pendengarannya seperti desahan angin, sejuk dan mendamaikan… suara ini dari tomatoa jauh dari gubuknya…
beranjak dari aliran deras sungai, di belahan kegelapan belantara, sang kakek melakukan sujud syukur…
masih terbilang subuh, semburat cahaya fajar dia pamit kepada tomatoa untuk kembali ketempatnya… setelah mendapat wejangan untuk terus-terusan menjadi manusia yang baik, yang senantiasa menghadirkan manfaat bagi siapapun termasuk alam sekitar…
syahdan… suatu malam menjelang tengah malam sang kakek mendengar suara-suara yang pikuk disekitar kandang kambing bambunya, dengan ketenangan yang wajar ia mendatangi kandang, dan menegur… “siruamo tongang, ingganna pai todri itingo dame lewa’ bega” demi mendengar teguran dari sang kakek “tersangka” ini seperti terjengkang dengan keheranan yang sangat… kenapa dia bisa melihat bahkan menegur kita… perlahan makhluk ini membalikkan badan dan menatap tatapan menusuk yang sekiranya orang biasa yang mendapat tatapan ini pasti akan seketika lumpuh, namun sang kakek dengan sikap yang tenang menerima dan membalas tatapan ini, kekuatan tatapan ini seakan memantul membuat mata dari makhluk ini memanas dan semakin panas akhirnya dengan gerengan keras, sambil memegang matanya dia meregang nyawa, dari kedua belah matanya mengalir cairan pekat dan sangat berbau kemudian menguap bersama jazad dari makhluk itu… peristiwa singkat ini disaksikan teman-teman yang rupanya berjumlah lima makhluk dengan tampang yang sangat aneh, besar hitam, berbulu, bertaring panjang, mata yang besar, hitam dan kelam… selain satu makhluk, yang lainnya lari bersembunyi, rupanya dia ini pemimpin diantara kelompok kecil ini…
“mengapa engkau membunuhnya?” pertanyaan ini dilontarkan dengan tidak menatap mata sang petani…
“aku tidak membunuhnya, bahkan aku tidak melakukan apapun, saya hanya membalas tatapannya, sekedar itu”
Dengan gerengan dan raungan marah dan sedih makhluk ini berkelebat pesat dengan satu sabetan kuku panjang dan hitam, disusul serangan berikutnya, begitu marah dan membabibuta… tapi anehnya tak satupun serangan yang dilancarkan dapat mengenai tubuh bahkan pakaian dari sang kakek, semua serangannya melenceng, gerakan si kakek tanpa jurus dia berdiri saja ditempatnya dengan posisi tenang dan wajar, sepertinya hawa pukulan makhluk ini yang menghindarkan sang kakek yang seolah memiliki bobot yang sangat ringan, seperti hendak menangkap asap… sang makhluk dengan tatapan marah dan letih tersungkur ditanah setelah sejumlah serangannya tidak menemui hasil… sementara sang kakek belum membalas sedikitpun…masih dengan wajah yang tenang dan senyum dibibirnya.
Dengan tatapan dibakar kemarahan dan inilah kesalahan makhluk ini dari matanya keluar kilatan cahaya api, sangat mengerikan tapi kali ini dia bertemu tanding yang luar biasa, tapi sebelum mata dari makhluk itu hancur dan meleleh seperti temannya yang telah musnah, sang kakek memberikan teguran
“hentikan tatapanmu, ini hanya akan membunuhmu…”
Makhluk itu serta merta tersadar dan segera menghentikan tatapannya, tapi ini juga sudah terlambat matanya sudah mengeras dan membatu, dia tak dapat melihat sedikitpun… kini makhluk ini tersungkur lebih dalam ke tanah dengan jeritan menyayat hati… tangannya mendadak dengan sangat pesat mengarah kematanya sendiri kemudian dengan sangat cepat merogoh dan merenggutnya dari lobang matanya dan menjatuhkannya di tanah.
Mana teman-temanmu, panggil dan segera pergi dari sini…
Dari semak-semak keluar tiga makhluk kemudian memapah pimpinan mereka kemudian dia berlalu pergi…
Hai orang tua, supaya aku tidak mengganggu lagi ternakmu, berikan tanda dikandangmu berupa “tedro-tedrong” (semacam kerang dari laut), dengan demikian aku tidak akan mengganggu ternak-ternakmu..!!! (ini ada kisahnya tersendiri)
dan perlahan makhluk-makhluk itu benar-benar menghilang dalam kegelapan malam…
Si kakek menarik nafas lega, perlahan dia melangkah dan memungut benda sebesar kepalan tangan orang dewasa “tulammatanna todri oroanna” benda itu masih hangat dan terasa kenyal, kemudian dia menyimpannya dalam peti peralatan pertukangan…
“Terus pua’ selanjutnya apa yang terjadi?” aku seperti menariknya dari masa lalu ke masa kini… parro-parrokoangi drolo pua’…
Setelah mengisap dan menghembuskan sekaligus disertai lenguhan panjang… dia lalu menatap cincin hitam dijarinya, mataku mengikuti arah pandangnya… “ini adalah satu dari tiga belahan bongkahan dari mata itu”
mappiarao beke ana' iyadre batue... mane pua'u dramo anna malai nipolong nipayari parammata, pappasanna pakei mappiara beke... INsya Allah diang a'dupanganna... pake-pakemi ana'...
dia lalu meloloskan cincin itu dari jemarinya dan ajaib setelah kupasangkan dijariku pas benar dijari manisku....
quiznya.... dimana kambing si kakek disimpan selama dia berguru ke tomatoa?
Sumber : https://www.facebook.com/MastempawanHadi?hc_location=ufi
dahulu perkampungan ini belum ada, masih berupa hutan dan semak belukar, jauh sebelum Gorombolang dan gurilla mencerai-beraikan sanak kadang dihampir seluruh pesisir dan pelosok Banggae dan Pamboang.... dentuman mortir, pariamba dibanua adalah hal rutin dan biasa magrib menjelang malam…. kebun si Kakek buyut masih jauh ke dalam sambil menunjuk arah dengan mimik yang sungguh-sungguh demi menegaskan betapa tersuruknya lokasi kebun yang kini diwarisinya itu... dalam kisahnya kutangkap kesan mencekam yang sangat angker…
"Mandundui tau Pua' sangga uwai todri..." istriku menawarinya setelah gelas kopi diletakkan ditatakannya, tentu saja dengan senyum termanis yang pernah dianugrahkan tuhan pada makhluk bernama perempuan.... keramahan ini mencairkan suasana menjadi lebih ringan... lanjut pua'!
disuatu petang di penghujung hari, dilereng dilindungi perbukitan siang terasa semakin cepat berakhir... sang kakek (yang ketika itu masih terbilang muda, sekitar empat puluhan tahun) sedang masygul kehilangan induk kambingnya, ini yang ketiga… rasanya sudah sangat keterlaluan (batin si kakek), kalau begini terus kambing-kambing ini akan habis dan yang kulakukan akan sia-sia…
beliau tak berdaya, tersangka utamanya adalah “Todri odroanna” (sekedar untuk diketahui, hingga hari ini faktanya semua peternak paham fenomena ini). Saya harus mencari cara bagaimana mengakhiri keadaan ini, besok aku akan mengunjungi tomatoa (sepuh masyarakat gunung yang tetap tinggal digunung meski keadaan sedang kacau, beliau tidak merasa perlu ikut-ikutan manyingkir, karena beliau disegani para gurilla dan gorombolang, beliau tidak pernah mendapat gangguan dari kelompok ini bahkan sering mendapat bantuan dan kemurahan, konon beliau berada pada maqom pandrita) semasa masih sangat muda sang kakek adalah murid kesayangan tomatoa.
singkat cerita sang kakek, menerima ilmu kesaktian gemblengan tomatoa, melalui berbagai rintangan ritual yang panjang kurang lebih empat puluh hari sang kakek di gembleng, penyucian batin. Sebagai tanda akhir dari ritual panjangnya, sang kakek melakukan ritual berendam disungai yang tak terjamah manusia, sehari semalam tanpa makan dan minum persis ketika siamme bulang anna mata allo…
nak… sudahi ritualmu… apa yang engkau hajatkan sudah ada dalam dirimu, ingat nak… bukan aku yang memberikan ilmu ini, aku hanya menghantarkanmu untuk sampai kesana, kesungguhan dan kemurnian hatimu yang membuatmu mungkin untuk menerima ilmu ini, inilah puncak dari ilmu dari segala ilmu “mapute nyawa kedro nipakedro”, inilah ketiadaan, engkau tak ada yang ada hanya DIA… sayup-sayup suara ini memasuki lorong-lorong pendengarannya seperti desahan angin, sejuk dan mendamaikan… suara ini dari tomatoa jauh dari gubuknya…
beranjak dari aliran deras sungai, di belahan kegelapan belantara, sang kakek melakukan sujud syukur…
masih terbilang subuh, semburat cahaya fajar dia pamit kepada tomatoa untuk kembali ketempatnya… setelah mendapat wejangan untuk terus-terusan menjadi manusia yang baik, yang senantiasa menghadirkan manfaat bagi siapapun termasuk alam sekitar…
syahdan… suatu malam menjelang tengah malam sang kakek mendengar suara-suara yang pikuk disekitar kandang kambing bambunya, dengan ketenangan yang wajar ia mendatangi kandang, dan menegur… “siruamo tongang, ingganna pai todri itingo dame lewa’ bega” demi mendengar teguran dari sang kakek “tersangka” ini seperti terjengkang dengan keheranan yang sangat… kenapa dia bisa melihat bahkan menegur kita… perlahan makhluk ini membalikkan badan dan menatap tatapan menusuk yang sekiranya orang biasa yang mendapat tatapan ini pasti akan seketika lumpuh, namun sang kakek dengan sikap yang tenang menerima dan membalas tatapan ini, kekuatan tatapan ini seakan memantul membuat mata dari makhluk ini memanas dan semakin panas akhirnya dengan gerengan keras, sambil memegang matanya dia meregang nyawa, dari kedua belah matanya mengalir cairan pekat dan sangat berbau kemudian menguap bersama jazad dari makhluk itu… peristiwa singkat ini disaksikan teman-teman yang rupanya berjumlah lima makhluk dengan tampang yang sangat aneh, besar hitam, berbulu, bertaring panjang, mata yang besar, hitam dan kelam… selain satu makhluk, yang lainnya lari bersembunyi, rupanya dia ini pemimpin diantara kelompok kecil ini…
“mengapa engkau membunuhnya?” pertanyaan ini dilontarkan dengan tidak menatap mata sang petani…
“aku tidak membunuhnya, bahkan aku tidak melakukan apapun, saya hanya membalas tatapannya, sekedar itu”
Dengan gerengan dan raungan marah dan sedih makhluk ini berkelebat pesat dengan satu sabetan kuku panjang dan hitam, disusul serangan berikutnya, begitu marah dan membabibuta… tapi anehnya tak satupun serangan yang dilancarkan dapat mengenai tubuh bahkan pakaian dari sang kakek, semua serangannya melenceng, gerakan si kakek tanpa jurus dia berdiri saja ditempatnya dengan posisi tenang dan wajar, sepertinya hawa pukulan makhluk ini yang menghindarkan sang kakek yang seolah memiliki bobot yang sangat ringan, seperti hendak menangkap asap… sang makhluk dengan tatapan marah dan letih tersungkur ditanah setelah sejumlah serangannya tidak menemui hasil… sementara sang kakek belum membalas sedikitpun…masih dengan wajah yang tenang dan senyum dibibirnya.
Dengan tatapan dibakar kemarahan dan inilah kesalahan makhluk ini dari matanya keluar kilatan cahaya api, sangat mengerikan tapi kali ini dia bertemu tanding yang luar biasa, tapi sebelum mata dari makhluk itu hancur dan meleleh seperti temannya yang telah musnah, sang kakek memberikan teguran
“hentikan tatapanmu, ini hanya akan membunuhmu…”
Makhluk itu serta merta tersadar dan segera menghentikan tatapannya, tapi ini juga sudah terlambat matanya sudah mengeras dan membatu, dia tak dapat melihat sedikitpun… kini makhluk ini tersungkur lebih dalam ke tanah dengan jeritan menyayat hati… tangannya mendadak dengan sangat pesat mengarah kematanya sendiri kemudian dengan sangat cepat merogoh dan merenggutnya dari lobang matanya dan menjatuhkannya di tanah.
Mana teman-temanmu, panggil dan segera pergi dari sini…
Dari semak-semak keluar tiga makhluk kemudian memapah pimpinan mereka kemudian dia berlalu pergi…
Hai orang tua, supaya aku tidak mengganggu lagi ternakmu, berikan tanda dikandangmu berupa “tedro-tedrong” (semacam kerang dari laut), dengan demikian aku tidak akan mengganggu ternak-ternakmu..!!! (ini ada kisahnya tersendiri)
dan perlahan makhluk-makhluk itu benar-benar menghilang dalam kegelapan malam…
Si kakek menarik nafas lega, perlahan dia melangkah dan memungut benda sebesar kepalan tangan orang dewasa “tulammatanna todri oroanna” benda itu masih hangat dan terasa kenyal, kemudian dia menyimpannya dalam peti peralatan pertukangan…
“Terus pua’ selanjutnya apa yang terjadi?” aku seperti menariknya dari masa lalu ke masa kini… parro-parrokoangi drolo pua’…
Setelah mengisap dan menghembuskan sekaligus disertai lenguhan panjang… dia lalu menatap cincin hitam dijarinya, mataku mengikuti arah pandangnya… “ini adalah satu dari tiga belahan bongkahan dari mata itu”
mappiarao beke ana' iyadre batue... mane pua'u dramo anna malai nipolong nipayari parammata, pappasanna pakei mappiara beke... INsya Allah diang a'dupanganna... pake-pakemi ana'...
dia lalu meloloskan cincin itu dari jemarinya dan ajaib setelah kupasangkan dijariku pas benar dijari manisku....
quiznya.... dimana kambing si kakek disimpan selama dia berguru ke tomatoa?
Sumber : https://www.facebook.com/MastempawanHadi?hc_location=ufi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar